Thursday, March 31, 2011

8. KORUPSI vis a vis SISTEM BERNEGARA

Oleh: Hendarmin Ranadireksa
Kalau seumpama, kepala negara memaklumkan perang terhadap agresor yang tiba-tiba menyerang negeri. Apa dan bagaimana reaksi publik? Hampir pasti akan ada ‘kepanikan’. Mengapa massa panik? Kepanikan terjadi karena mereka menghadapi masa depan yang tidak pasti! Rakyat akan berbondong-bondong ‘menyerbu’ pasar atau super market, membeli bahan makanan – utamanya beras – semampu masing-masing. Yang bisa membeli 1 Ton, dan ada lumbungnya, mereka akan beli 1 Ton, yang hanya bisa membeli 1 Kg mereka membeli 1 Kg. Yang tidak punya uang atau kehabisan, mereka akan ikut mencuri atau merampok seperti yang dilakukan pencuri dan perampok kambuhan. Hal yang, kalau diukur dari logika akal sehat, ‘aneh’ karena 1 Kg tentu hanya berguna 1-2 hari saja, tidak mungkin cukup untuk waktu perang yang entah kapan berakhir. Yang dilakukan massa adalah spontanitas atau refleks, ‘safety first’!

Apa kaitannya cerita di atas dengan korupsi (yang melanda sebagian sangat besar pejabat negara mulai dari yang terrendah sampai tertinggi). Korupsi dilakukan karena ada dorongan ‘bawah sadar’ ingin mengamankan masa depan diri & keluarga. Siapa yang paling tahu kalau masa depan akan tidak menentu? Sudah tentu pejabat tertinggi dan lingkaran terdekat dari pejabat tertinggi. Mereka paling tahu kalau pengelolaan negara yang dilakukan sebenarnya tidak membawa negara ke arah yang dipropagandakan dan/atau dikampanyekan. Mereka tahu kalau yang mereka lakukan sesungguhnya membawa negara semakin ‘nyungsep’! Artinya, mereka tahu kalau masa depan suram atau bahkan, ‘gelap’. Atas dasar itu pejabat negara mulai dari tertinggi hingga terrendah secara refleks melakukan ‘safety first'. Mereka korup! Perbuatan pimpinan diketahui anak buahnya. Anak buah juga korup. Begitu seterusnya sampai tingkat terrendah. Mereka tidak peduli bagaimana pandangan masyarakat, mereka hanya berprinsip, diri dan keluarganya harus terjamin yang, untuk lingkaran tertinggi jaminan masa depan yang ditargetkan melewati batas generasinya.

Sementara terus melakukan tindak ‘pengamanan pribadi dan keluarga’ (korup) mereka terus berpropaganda meyakinkan rakyat bahwa, negara telah berjalan di atas rel yang benar, bahwa kemajuan signifikan telah dicapai, statistik dan data efektif untuk digunakan sebagai back up. Rakyat diminta percaya bahwa mereka sukses, mereka sudah bekerja mengabdi pada kepentingan rakyat tidak siang tidak malam, dst…. Karenanya, absurd kalau ada yang percaya pada propaganda petinggi negara sementara rakyat melihat secara kasat mata pejabat negara (legislatif, eksekutif, yudikatif, birokrasi & kepolisian) terus melakukan korupsi.

Korupsi, yang sudah menggurita sejak Indonesaia merdeka, adalah akibat sistem bernegara, yang berlaku dan diberlakukan, tidak memiliki ‘built in control mechanism’ efektif untuk mencegah perbuatan korupsi. Artinya, korupsi adalah produk sistem yang memang korup. Karenanya korupsi hanya dan hanya bisa diatasi oleh sistem yang mampu menseleksi mana calon bersih dan mana bandit, mana calon yang hanya bersandar pada keturunan atau pencitraan pribadi dan mana calon pemimpin yang memiliki integritas pribadi, sistem yang memiliki kejelasan kewewenangan, tugas, hak, kewajiban lembaga sekaligus pejabat negaranya dan sistem yang secara jelas berkomitmen menjunjung tinggi HAM sebagai pengejawantahan dari prinsip KEDAULATAN RAKYAT. Korupsi hanya dan hanya akan tereliminasi secara maksimal manakala demokrasi yang berkedaulatan rakyat bisa diterjemahkan secara benar dalam konstitusi (sistem bernegara). Hal itu dilakukan hampir semua negara yang bertekad melakukan perubahan total. Dan, itu yang kini tengah dilakukan rakyat Mesir!

Bandung, 16 Februari 2011.


Hendarmin Ranadireksa
February 16 at 2:57pm · Unlike · Report
You, Frangky Hamzanov, Archer Clear, Nurul Candrasari Masykuri and 4 others like this.
Hendarmin Ranadireksa ‎@Mas Arifin Brandan. Maaf mas, tulisan di atas tadi saya hapus karena kelupaan mencantumkan nomor. Salam.
February 16 at 3:08pm · Like
Hendarmin Ranadireksa ‎@Ade Muhammad, Irwan Yuliadi. Terima kasih 'jempol'-nya.
February 16 at 3:09pm · Like
Ade Muhammad jadi ketika tidak merasa aman terhadap "kepastian" masa depan ... orang otomatis akan "selamatkan diri", termasuk mencuri dan korupsi
February 16 at 3:11pm · Like
Bambang Budianto Kalau begitu korupsi tumbuh subur di negara berkembang (Miskin)?
February 16 at 4:10pm · Like
Hendarmin Ranadireksa ‎@Ade Muhammad. Bukan menyelamatkan diri, lebih tepat mengamankan diri (dan keluarga). Mengamankan diri & keluarga menghadapi ketidak pastian masa depan sifatnya manusiawi. Dalam konteks negara ketidak pastian yang diakibatkan ketidak-mampuan/kegagalan penyelenggara negara mengelola negara makin parah ketika HUKUM, yang adalah alat untuk memberikan kepastian, diacak-acak pula. Salam.
February 16 at 4:16pm · Like
Hendarmin Ranadireksa ‎@Bambang Budianto. Mungkin perlu dibalik. Kemiskinan yang mendera negara berkembang akibat ketidakmampuan penyelenggara mengelola negara plus korupsi yang dilakukan mereka. Untuk mengamankan perbuatannya hukum dikooptasi untuk kepentingan penguasa (baca: koruptor). Salam.-
February 16 at 4:31pm · Like · 1 person
Aida C'est <>Mengutip salah seorang negarawan dunia (;upa namanya) yang lebih kurang bunyinya demikian:

“kekuasaan didasarkan kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku, segala kebijakan diambil secara transparan, serta dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

Kekuasaan juga harus didasarkan atas aspek kelembagaan dan bukan atas kehendak seseorang atau kelompok tertentu.

Kekuasaan juga harus taat kepada prinsip bahwa semua warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama di mata hukum”.

Khusus untuk Indonesia sangat membutuhkan good and clean governance. dan empat elemen penting dari pemerintahan yang baik dan bersih yaitu:

(1) accountability,
(2) transparancy,
(3) predictability, dan
(4) participation.

Kesimpulan ini tidak dapat dilepaskan dari adanya kesadaran bahwa tanpa keinginan mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih tidak mungkin melakukan pembangunan dengan baik

Paling tidak ada empat kata yang harus menjadi perhatian kita kalau membicarakan good and clean governance tersebut, yaitu
(1) good government,
(2) clean government,
(3) good governance, dan
(4) clean governance.

Dari empat pembagian tersebut dilihat bahwa yang menjadi perhatian adalah good (baik), clean (bersih), government (pemerintahan), dan governance (penyelenggara pemerintahan).

Artinya paradigma yang hendak dikembangkan adalah pemerintahan yang baik dan bersih yang juga didukung oleh penyelenggara pemerintahan yang baik dan bersih.

Dengan demikian government lebih memberikan perhatian terhadap sistem, sedangkan governance lebih memberikan perhatian terhadap sumber daya manusia yang bekerja dalam sistem tersebut.

Tanpa menjaga keseimbangan terhadap dua hal ini akan muncul ketimpangan dalam praktek peyelenggaraan pemerintahan yang pada akhirnya akan menimbulkan kehancuran terhadap sistem bernegara.

menurut saya clean government adalah satu bentuk atau struktur pemerintahan yang menjamin tidak terjadinya distorsi aspirasi yang datang dari masyarakat serta menghindari terjadinya abuse of power.

Untuk itu diperlukan:
(1) pemerintah yang dibentuk atas kehendak orang banyak,
(2) struktur organisasi pemerintah yang tidak kompleks (lebih sederhana),
(3) mekanisme politik yang menjamin hubungan konsultatif antara negara dan warga negara, dan
(4) mekanisme saling mengontrol antar aktor-aktor di dalam infra maupun supra struktur politik.

Pengertian ini muncul karena begitu banyak thesis terhampar di hadapan kita sebagai rakyat hari ini bahwa:

pertama, kurangnya perhatian terhadap pemerintahan yang baik dan bersih telah mendorong terciptanya praktik monopoli, korupsi, kolusi dan nepotisme.

Kedua, penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih merupakan bahagian yang sangat penting dari sebuah proses demokrasi.

Karena hal ini menjadi syarat mutlak bagi pembangunan yang menyeluruh dan berimbang.
February 16 at 7:57pm · Like · 4 people
Hendarmin Ranadireksa ‎@Aida C'est. 100! Salam.-
February 18 at 9:57am · Like
Hendarmin Ranadireksa ‎@Effendi Saman, Frans. Nadeak, Archer Clear, Nurul Candrasari Masykuri, Molba Langah, Ade Muhammad, Irwan Yuliadi. Terima kasih 'jempol'-nya.
February 18 at 9:58am · Like

No comments:

Post a Comment