Saturday, April 2, 2011

6. B. VISI EKONOMI (4)

(Meningkatkan Daya Beli Bangsa)

Dicuplik dari Hendarmin Ranadireksa, "VISI BANGSA. Gudang Pangan, Tujuan Wisata, dan Paru-paru DUNIA", Permata Artistika, 2000)

SWASTA.
 Apabila Koperasi dan BUMN oleh karena misi dan fungsinya dikenal statis maka dinamika perekonomian bangsa akan sangat diwarnai oleh peran swasta. Berbeda dengan Koperasi dan BUMN  yang tidak berorientasi pada profit, maka swasta berorientasi dan harus berorientasi pada profit. Profit adalah kelangsungan usaha sekaligus menumbuhkan motivasi dan dinamika. Oleh karena dinamika itulah lahan garapan swasta harus diluar lahan garapan  Koperasi dan BUMN. Apabila koperasi memiliki batasan lahan tanah yang tidak mungkin bisa diperluas, apabila BUMN memiliki batasan usia usaha baik oleh sebab habisnya bahan tak terbarukan atau oleh selesainya fungsi dan peran karena telah dapat diganti oleh swasta. Dinamika swasta juga memerlukan batasan atau koridor tertentu, selain dari batasan pada lahan garapan, juga memerlukan aturan agar tidak terjadi hukum rimba dalam dunia swasta, artinya yang kuat memakan yang lemah.

Di dunia swasta juga harus tetap terjaga azas keadilan. Penguasaan lahan garapan dari hulu sampai ke hilir, pengembangan bisnis secara horizontal (misalnya pabrik mobil mengembangkan bisnisnya ke pabrik tahu ) harus dicegah. UU Anti Monopoli atau UU Anti Trust yang diberlakukan didunia kapitalis dimaksudkan agar iklim usaha tidak dimonopoli oleh pengusaha raksasa atau agar pengusaha kecil tidak tergilas oleh buasnya pemilik modal. Pengusaha kecil harus memiliki kesempatan yang sama untuk bisa berkembang dalam iklim persaingan usaha yang sehat. Hikmah dari diberlakukannya UU Anti Monopoli adalah berkembangnya iklim usaha yang bertumpu pada keahlian riil yang dimiliki. Kerjasama swasta dengan lembaga-lembaga penelitian, ataupun kegiatan R&D yang dilakukan oleh swasta sendiri adalah modal utama agar dapat bersaing di pasar global. Output swasta adalah produk kualitas tinggi dengan harga bersaing. Peran R&D, yang berarti ilmu pengetahuan dan teknologi, demikian menonjol. Bila sebelumnya dikenal istilah the higher quality the higher cost maka dunia kemudian mengenal istilah baru the higher quality the lower cost. Perhatikan harga komputer, telepon seluler, kalkulator, video dll., yang terus bertambah murah namun dengan itur semakin lengkap dan kualitas semakin meningkat. Swasta juga berperan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Swasta bukan saja menyerap tenaga kerja, swasta bahkan berperan kuat dalam peningkatan kualitas SDM. Memanfaatkan peluang, mengisi peluang bahkan membuka peluang hanya mungkin dilakukan oleh swasta dengan dinamika, kreativitas dan inovasinya.

1.       Sistem Rezim Devisa Bebas dengan Kontrol.

“Sistem rezim devisa bebas” berlangsung selama pemerintahan Orde Baru, sistem yang diyakini sebagai bagian dari daya tarik investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Padahal dalam prakteknya ternyata, banyak memberikan dampak negatif dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh seperti telah disinggung dalam pembahasan terdahulu. Untuk kedepan “sistem rezim devisa bebas” yang membebaskan keluar masuk modal kapan saja diperlukan tidak boleh lagi dipertahankan dalam bentuknya seperti sekarang. Kebebasan ‘keluar-masuk’ modal, seperti layaknya transaksi di bursa saham, tidak bisa berlaku untuk semua kondisi. Keluar masuk devisa memerlukan pencatatan dan kontrol. Amerika Serikat negara paling kapitalis pun sampai saat ini masih melakukan kontrol devisa.

 2.       Penghapusan Konglomerasi.
Konglomerasi adalah salah satu penyakit ekonomi. Kredit macet BLBI yang entah konon, seperti luas diberitakan media cetak dan elektronik, tidak kurang dari enam ratus lima puluh trilyun rupiah diatas nilai agunan tidak lebih dari sepertiga nilai kredit memperlihatkan dengan jelas tingkat moralalitas konglomerat yang sebelumnya selalu dibanggakan sebagai pembawa kemajuan perekonomian Indonesia. Fakta sesungguhnya adalah sistem konglomerasi adalah pencipta apa yang disebut sebagai bubble-economy (ekonomi gelembung) yang dianut Jepang dan sejumlah negara macan Asia. Pengusaha konglomerat banyak yang terjun di bidang real estate yang menuai laba dari penggelembungan nilai asset/tanah untuk menarik kredit bank dalam jumlah yang cukup fantastis. Tingginya angka pertumbuhan tidak terlepas nilai yang diciptakan itu. Sistem ekonomi berbasis konglomerat juga berdampak pada pertumbuhan usaha ke arah ‘horizontal’ (memperluas bidang usaha baru tanpa pengalaman hidup namun bisa besar karena menikmati fasilitas istimewa) menyebabkan minimnya pertumbuhan usaha yang berbasis teknologi yang diperoleh dari R&D-nya sendiri. Hal yang kemudian diperparah dengan tidak adaannya visi pemerintah, tidak adaannya kejelasan arah pendidikan, dan tidak jelasnya prioritas R&D. Sesuatu yang seharusnya tidak perlu terjadi karena Indonesia memiliki Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Departemen Riset dan Teknologi. Karenany pertumbuhan ekonomi terjadi di atas pondasi yang keropos.

Kembali pada masalah teknologi dalam kaitannya dengan sistem ekonomi yang berbasis pada konglomerat[1]


[1] Indonesia selama 3-dekade menumpukan raihan devisa dari 3-komoditi utama yakni minyak bumi/gas alam, kayu dan tekstil.Sampai dengan hampir habisnya minyak dan gas,  yang dijual tetap saja minyak mentah (crude oil). Tidak ada perubahan signifikan di fakultas perminyakan ITB dari 30 tahun lalu sampai sekarang. Masih itu-itu juga. Tidak ada perubahan signifikan di Fakultas Pertanian UNPAD, di Fakultas Biologi ITB ataupun di Institut Pertanian Bogor agar produk kayu bisa memperoleh nilai tambah baik kualitas, percepatan jangka waktu tanam, dan/atau memperoleh komoditas yang mampu bersiang di pasar internasional. Bahkan tekstil yang menempati urutan ke-3 terbesar dalam raihan devisa bernasib aneh dengan ditutupnya Insitut Teknologi Tekstil di Bandung oleh alasan yang sangat tidak bisa dimengerti, sangat berorientasi pada arogansi sektoral (konon karena ada konflik kepentingan antara Departemen Industri dan Departenen P dan K).

Hendarmin Ranadireksa
Wednesday at 5:54pm · Like · Report
Denni Hopkins Full II, Anton Isdarianto, Liani Berlian and 2 others like this.

No comments:

Post a Comment