Saturday, April 2, 2011

1. VISI BANGSA. (2)

(Dicuplik dari Hendarmin Ranadireksa, "VISI BANGSA. Gudang Pangan, Tujuan Wisata, dan Paru-paru DUNIA", Permata Artistika, 2000)

B.  Tujuan Wisata Dunia.

Kombinasi sinergis manusia (dengan aneka ragam budaya), laut, dan sinar matahari, memberikan imajinasi akan adanya potensi dahsyat yang lain lagi yakni, potensi pariwisata. Bila pulau Guam yang demikian kecil di Pacific yang ‘hanya’ mengandalkan sinar matahari dan laut, mampu menyedot lebih dari 5 juta turis/tahun. Berapa banyak ‘Guam’ yang dimiliki Maluku? Berapa banyak pulau-pulau di Maluku yang memiliki potensi pantai indah, laut bening dengan taman laut mempesona dan sinar matahari berenergi yang menjadi idaman turis manca negara untuk menikmatinya. Maluku hanyalah sebagian dari sekian banyak potensi wisata yang dimiliki Indonesia. Bila Spanyol di Eropa dengan andalan budayanya seperti matador, flamenco, kota-kota bersejarah peninggalan ‘era kejayaan’ Islam, dikunjungi lebih dari tiga puluh juta turis pertahun, maka tergantung pada berapa besar kemampuan dan kesanggupan Indonesia menerima dan/atau menampung turis manca negara untuk menikmati seribu satu macam aneka warna budaya atau, untuk berjemur di pantai yang cahaya mataharinya bisa dinikmati sepanjang tahun atau, berselancar menikmati alunan gelombang laut atau, untuk menyelam (diving) menikmati taman laut yang indah mempesona.

Industri pariwisata hendaknya tidak dipahami secara dangkal, bahkan keliru, sebagai sekedar bisnis biasa yang terbatas pada jual-beli dan/atau sebagai alat untuk meraup devisa. Turisme hanya bisa berkembang apabila dilandasi kejujuran dan ketulusan. Wisatawan mancanegara kurang suka dengan segala sesuatu yang berbau artifisial. Hongkong dan Singapura sengaja ‘menjual’ model tawar-menawar (bargaining) di salah satu pusat perbelanjaannya sebagai sesuatu yang khas, demikian pula di era tahun 50-60-an Hongkong memperlihatkan apa adanya ‘kekumuhan’ jung-jung (perahu khas Cina) yang justru menerbitkan keingintahuan wisatawan mancanegara. Pariwisata adalah pembuka sekaligus kontributor terbesar pemulihan ekonomi Eropa yang hancur akibat Perang Dunia II. Eropa ‘menjual’, untuk dilihat oleh wisatawan mancanegara, reruntuk bangunan akibat perang, kamp konsentrasi tawanan Yahudi (prison camp) di era Nazi, dan lain-lain. Membuka pariwisata, bagi Eropa kala itu, tidak semata untuk mendapatkan devisa, lebih jauh dari itu, lewat kegiatan wisata, mereka ingin menanamkan kesadaran pada umat manusia akan betapa dungu dan bodoh manusia memilih perang, yang kejam dan akan selalu kejam dan menyengsarakan, sebagai pilihan politik.

Turis/wisatawan juga ingin mengetahui latar belakang budaya masyarakat/bangsa yang dikunjungi. Alam, seni, sejarah, dan budaya adalah daya tarik utama wisatawan mancanegara. Maka pengembangan kepariwisataan mau tidak mau akan memaksa membuka kembali sejarah secara jujur untuk kemudian melestarikan dan mengembangkan budayanya, itulah yang tengah dilakukan Cina. Sadar akan kekuatan sejarah masa lampaunya, sejak 3000 tahun sebelum Masehi, mereka giat menggali situs. Cina tidak ingin ditempatkan atau menempatkan diri sebagai sekedar daerah persinggahan wisata, daerah lintasan wisata. Cina, sang naga raksasa Asia sedang menggeliat, mulai bangun dari tidur panjangnya, menempatkan pariwisata sebagai salah satu prioritas utama. Tidak main-main! Mereka sekarang menempati posisi ke-6 dunia di bidang kepariwisataan dalam kerangka target utama mereka, menjadi negara tujuan wisata nomor satu dunia, menjadi ‘Raja Wisata Dunia’ di tahun 2020 seperti yang ditulis harian Kompas tanggal 11 Juni 2000.

Pariwisata adalah industri berskala dunia dan terbesar di dunia dalam hal keluaran bruto tidak kurang dari US$ 3,4 triliun merupakan angka yang sangat menjanjikan. Amerika Serikat tahun 1991 saja memperoleh peraihan devisa dari pariwisata berjumlah US$ 51 M merupakan penghasil No. 1 melebihi pertanian yang US$ 39 M dan, mengutip pernyataan Geoffrey Lipman, Presiden dari World Travel & tourism Council bahwa di abad 21 Asia akan menjadi tempat tujuan pelancong yang utama (John Naisbitt, Global Paradox 1994). Dari sisi pandang bisnis, bisnis pariwisata adalah ‘binis cash’, kalaupun ada tenggang waktu pembayaran hanya terbatas pada jenis pembayaran kartu kredit yang juga harus dinilai cash atau tunai. Bisnis pariwisata tidak mengenal model bisnis ala konglomerat. Skala bisnis pariwisata utamanya adalah bisnis skala menengah dan kecil, kecuali tentu untuk sejumlah pemilik dan pengelola hotel berbintang empat, lima, atau ‘lima plus’.

Berkembangnya pariwisata berdampak pada berkembangnya bisnis perhotelan dan biro wisata perjalanan, industri rumah (home industry) yang memproduksi cendera mata dan industri makanan/rumah makan. Selanjutnya akan berkembang pula seni dan budaya dan kearifan lokal, yang selama ini, di Indonesia, seperti sudah terpinggirkan. Pengembangan pariwisata juga akan berdampak positif pada kembali terpeliharanya objek-obyek wisata alam ataupun peninggalan sejarah yang bermuara pada terbukanya lapangan kerja. Pariwisata, yang sekarang sedang mengglobal, adalah sarana efektif bagi terjalinnya pengertian dan saling memahami budaya antar bangsa yang adalah modal utama bagi terciptanya dan/atterjaganya perdamaian dunia. Sudah tiba masanya Indonesia mempersiapkan diri menyonsong era tersebut. Sangat masuk akal bila Indonesia mentargetkan raihan devisa dan memulihkan sekaligus mengembangkan perekonomiannya juga berbasis pada industri pariwisata. Indonesia harus berani mendeklarasikan dirinya sebagai salah satu Tujuan Wisata Dunia.

Hendarmin Ranadireksa
Wednesday at 2:30pm · Unlike · Report
You, Denni Hopkins Full II, Sonny Djatnika Sunda Djaja and Hamdhi Anwar like this.

No comments:

Post a Comment